Ibunya dirumah berdagang corah dan es. Corah adalah pentol/cilok yang sangat pedas. Tapi dagangan ibunya sepi dirumah. Dan Surti berinisiatif untuk menjual corah dikelas untuk membantu ibunya.
Lalu Surti membawa corah, dan mempromosikan dikelasnya. Alhamdulillah ternyata banyak yang berminat untuk memesan. Surti sangat senang, bisa membantu ibunya berjualan. Cara membeli corah, teman-teman Surti harus memesan sehari sebelumnya. Dan uangnya ada yang sudah diberikan sebelumnya, ada juga diberikan besoknya saat menerima pesanannya (corah).
Lalu setiap pagi Surti bangun jam 03.00 a.m pagi untuk membantu ibunya menyipakan pesanan untuk teman-temannya. Hari demi hari dagangan Surti semakin laris dikelasnya, ibunya sangat senang. Banyak pelanggan dari luar kelas juga untuk memesan corahnya Surti. Mereka mendengar dari teman-teman Surti. Setiap hari pasti ada pesanan meski kadang-kadang rame, kadang-kadang cuma sedikit.
Semakin lama, sara memsesan corahnya Surti semakin canggih. Ada yang memesan lewat via sms, ada yang via Facebook, ada juga yang via twitter.
Surti tidak malu melakukan itu semua, dia malah senang melakukan itu semua karena bisa melihat raut wajah ibunya senang mendapatkan untung dari penjualan corah Surti disekolahnya.
Surti setiap hari berangkat pagi dan pulang sore, karena sekolahnya bersistem fullday. Dan surti selalu bangun jam 03.00 pagi untuk membantu ibunya. Surti si penjual corah tersebut tidak pernah malu.
Selain corah Surti juga berjualan pulsa, dan untungnya bisa untuk membeli jajan karena ibunya tidak pernah memberi uang saku. Ibunya hanya memberi uang untuk uang bensin, itu saja sudah cukup bagi Surti.
Jangan pernah malu bekerja dengan keadaan bagaimanapun karena kita tidak salah, kenapa harus malu??? Dan jangan pernah malu dengan kedudukan yang kita punya.
k.




0 komentar:
Posting Komentar